Minggu, 29 November 2015
KAMI INDONESIA
Berbeda dari postingan sebelumnya, kali ini saya memposting sebuah video yang mungkin dapat menginspirasi kita semua.
Video ini ditujukan buat kita semua bangsa Indonesia, bahwa kita lahir di tanah Indonesia bukan karena pilihan tetapi karena takdir yang telah Tuhan berikan kepada kita , dimana di bangsa ini kita hidup dalam berbagai suku, budaya, agama, ras yang berbeda-beda yang sebagaimana mestinya kita dapat bersatu dalam perbedaan yang kita miliki, karena tanah Indonesia diizinkan untuk diinjak oleh perbedaan. Serta bagaimana kita menerima perbedaan itu dengan rasa yang kita miliki.
Yukk guys kita lihat video yang satu ini.. Check it out!
Rabu, 18 November 2015
Keteladanan Mgr. Puja Sumarta
Beberapa hari yang lalu,
kita masyarakat Indonesia umumnya umat katolik, kehilangan salah satu putera
terbaik yakni Uskup Agung Semarang, Mgr.Johannes Pujasumarta Pr. Mgr.Puja, wafat pada hari
Selasa 10 November 2015 di RS Elisabeth Semarang pada pukul 23.30. Beberapa
dari mereka mencoba menghibur diri dengan mengatakan : ”Ini pasti yang terbaik
bagi Mgr.Puja setelah sakit begitu berat, Tuhan telah menganggap cukup tugas
Mgr. Puja di dunia ini dan sekarang saatnya memperoleh mahkota kemuliaan
bersama Tuhan” namun tak bisa dipungkiri, semua tiba-tiba merasa sangat
kehilangan sosok Mgr.Johannes Pujasumarta Pr.
Banyak perjalanan yang ia tempuh sehingga Mgr.Puja
menjadi Uskup Agung di Semarang. Pada tahun 1973, Mgr. Puja masih seorang
frater, belum ditahbiskan menjadi imam. Jabatannya juga tidak tinggi-tinggi
amat. Beliau “cuma” menjabat sebagai Frater Sub-Pamong MP (Medan Pertama) yang
dapat menjadi tokoh, panutan, simbol pemersatu,di Seminari Mertoyudan angkatan
1973. Terbukti Romo Puja memang memiliki kepribadian yang baik. Caranya
bersikap dan bertutur kata, diiringi dengan kemurahan hati dan tertawanya yang
lepas, menunjukkan sekali bahwa ia adalah pribadi yang “punya kelas”.
Kemudian Bapak Uskup Agung Semarang Kardinal Julius
Darmaatmadja SJ waktu itu menugaskan Romo Puja mengambil studi Teologi
Spiritualitas di Universitas Angelicum Roma, karena menilai Romo Puja memiliki
kualitas rohani yang tinggi. Hidup doa dan hidup rohaninya benar-benar bermutu.
Singkat cerita sebelum ia belajar di Universitas Angelicum Roma, Romo Puja
mengikuti retret dimana saat ia retret ia cuma minum air putih saja sedangkan romo-romo
sekarang jarang yang mau berpuasa dan matiraga seperti Romo Puja maka ada yang
mengatakan bahwa suatu ketika nanti dia akan jadi Uskup. Ramalan Suster
Marietta ini terbukti benar. Romo Pujasumarta memang kemudian terpilih menjadi
Uskup, bahkan Uskup Agung.
Mendapat tahbisan episkopal dari tangan Kardinal Julius Darmaatmadja SJ
untuk menjadi Uskup Diosis Bandung. (Ist)
Saat di Roma, Romo Pujasumarta sungguh menjadi sahabat
yang sangat baik bagi rekan-rekannya. Kebutuhan sandang dan pangan
rekan-rekannya bahkan sangat diperhatikannya, diwarisi dan dicarikan baju-baju yang
tebal-tebal, kalau musim dingin tiba. Selain itu tidak segan-segan Romo Puja
menunjukkan koleksi korespondensinya dengan kakak dan adik-adiknya yakni
dokumentasi yang lengkap memaknai apa-apa saja peristiwa hidup sehari-hari dari
kacamata iman serta menunjukkan betapa hebatnya hidup doa dan hidup beriman
sebuah keluarga yang sungguh-sungguh konsekwen mengikuti Yesus itu.
Selama kurang lebih 20 tahun terakhir ini, umat
Katolik khususnya orang muda Katolik, sangat mengenal Mgr. Pujasumarta sebagai
“Uskup Gaul”, uskup yang tidak alergi dengan media sosial. Sebelum zaman
Facebook, Mgr. Puja sudah aktif melanglang buana di dunia maya. Walau rajin
berpuasa dan bermati raga, Mgr. Puja juga tidak menjauhi dunia. Diajak makan ibu-ibu
di resto, tidak dianggap haram oleh Mgr. Puja. Walau sering memberi kesan “ngèli”
(sengaja ikut arus) tetapi beliau tidak pernah “kèli” (terbawa arus).
Dimana pun beliau ditugaskan, termasuk ketika ditunjuk
menjadi Uskup Bandung “cuma” selama 2 tahun pada tahun 2008 dan kembali “pulang
kandang” ke Semarang pada tahun 2010, semua diterima dan dijalani dengan taat
serta gembira.
Dimanapun Mgr. Puja bertugas, ia selalu menampilkan
diri sebagai bapak dan gembala yang baik bagi domba-dombanya. Mgr. Puja tidak
hanya menggembalakan dengan “kepala”, tetapi lebih nampak menggembalakan dengan
“hati”. Ia menjadi gembala yang begitu dicintai, karena selama hidupnya ia
menjadi pemberi yang tekun, setia dan tak pernah lelah.
Cara beliau menghadapi masalah umat, termasuk masalah
yang menjadi pergumulan para calon imam dan rekan-rekan imamnya, sangat jelas
menampilkan bahwa seorang imam Pujasumarta pertama-tama adalah “orang rohani”,
rekan seperjalanan dalam berjuang menghidupi iman. Apa pun yang diberikan,
senantiasa dipandang sebagai pelayanan. Apa pun yang ditugaskan, selalu
dipandang sebagai pamong, sebagai “pengasuh” umat.
Semoga apapun yang ia lakukan selama ini dapat menjadi
pelajaran yang berharga bagi kita semua karena menurut saya alm. Mgr. Puja sudah
menjadi gembala yang sungguh baik, karena sebagai imamNya dan UskupNya, beliau
tahu menunjukkan domba-dombanya jalan yang benar, dengan cara yang benar,
dengan jalan yang baik, dan dengan teladan hidup yang tak tercela.
Kamis, 05 November 2015
Mengasihi Sesama Sebagai Bukti Mengasihi Tuhan
Ketika kita mengaku bahwa kita
mengasihi Tuhan, hal itu perlu kita buktikan dengan cara bagaimana kita dapat
menyenangkan hati-Nya, seperti yang kita lakukan terhadap orang-orang yang kita
kasihi. Salah
satu contoh mengasihi adalah memberi, entah itu untuk orangtua, teman, saudara,
ataupun orang lain yang lemah.
Suatu
ketika, saya dan beberapa teman saya diminta untuk melakukan proyek
kebaikan. Dimana proyek kebaikan itu
menunjukan hal mengasihi orang lain yang kurang mampu. Setelah berunding
beberapa waktu, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan proyek ini dengan cara
memberikan makanan berupa nasi bungkus dan segelas air mineral kepada
orang-orang yang kurang mampu.
Awalnya
kami merasa santai dan hampir tidak memaknai hal ini karena kami hanya berkata,
“halah cuma tugas kok, beli makan itu hal yang mudah”. Tetapi tepat dimana hari
itu kami melakukan proyek kebaikan, kami justru harus berjuang dan berusaha,
karena diantara kami tidak ada yang dapat mengendarai kendaraan, dan itu
mempersulit kami untuk berpergian membeli makanan maupun mendatangi orang-orang
yang kurang mampu, dan pada akhirnya
kami menggunakan angkot untuk melakukan proyek tersebut.
Kemudian
setelah kami sampai di tempat yang kami tuju, kami mencari orang-orang yang
kurang mampu, dan ini menjadi tantangan kami selanjutnya karena tidak mudah
untuk menemukan orang-orang yang kurang mampu di sekitar lokasi tersebut.
Sampai akhirnya kami berjalan menyusuri sepanjang jalan dan menemukan
tukang becak, pemulung sampah, dan
tukang parkir, segeralah kami memberikan makanan dan minuman tersebut kepada
mereka dan tak segan-segan untuk mengajak ngobrol mereka.
Setelah
proyek tersebut berakhir, kami mulai merasakan bahwa hal kecil yang kami
lakukan tersebut sangat bermanfaat bagi mereka. Terbukti pada saat mereka menerima
makanan yang kami beri, mereka dengan cepat dan lahap memakannya, dari kejadian
yang kami lihat, kami merasakan senang sekali, karena hal yang menurut kami
sangat sederhana tetapi bagi mereka sangat berarti. Selain itu kami belajar
untuk bersyukur atas
apa yang dapat kami makan hari ini karena masih banyak orang di luar sana
yang kurang beruntung dan kelaparan. Serta yang terpenting
adalah belajar untuk memberi dengan hati yang tulus, tidak memandang sebelah
mata, tidak mengharapkan imbalan, dan belajar mengasihi sesama tanpa memandang
perbedaan agama yang mereka anut.
Dalam menikmati hidup ini, tidak jarang kita mengabaikan sesama kita, karena
yang menjadi fokus kita adalah “diri kita sendiri”. Saat kita benar-benar
menghayati ajaran Kristus tentang kasih, kita selalu disadarkan bahwa kita
tidak hidup sendiri di tengah dunia ini. Hidup ini terlalu indah untuk
dinikmati sendiri. Kita ditantang untuk ‘mempraktekan dan mereflksikan’ ajaran
Tuhan tentang kasih. Ajaran ini tidak sulit, hanya dibutuhkan kesediaan dari
kita!
Dan belajarlah dari Matius 22 : 29 “Itulah hukum yang kedua, yang sama dengan
itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Lim Jessica)
Langganan:
Postingan (Atom)



