Glitter Words

Minggu, 06 Desember 2015

Membangun Persaudaraan Sejati : Pemihakan kepada Kaum Lemah

Tidak akan ada orang kuat jika tidak ada orang lemah. Pepatah ini mau mengatakan bahwa kesediaan yang tulus untuk membangun persaudaraan yang sejati akan menjadi semakin murni, apabila kita sanggup melibatkan diri dalam kegembiraan dan kecemasan manusia terutama yang lemah atau miskin, baik miskin materi maupun psikis (miskin kasih sayang) dan terlantar. Kaum miskin adalah mereka yang tak bermilik dalam bentuk apapun: kekuasaan, kedudukan, harta milik, dan lain-lain. Yang tinggal pada mereka adalah kemanusiaan.

Bunda Theresa memberikan perhatian kepada anak-anak

Seperti yang kita tahu bahwa tokoh Bunda Theresa sangat memberikan motivasi untuk kita semua. Bukti cinta kasih Bunda Theresa sangat terlihat jelas bahwa ia melayani Tuhan dengan cara melayani orang-orang yang terlantar, merawat kaum lemah yakni orang miskin dan orang sakit, orang kelaparan, dan masih banyak lagi. Ia melakukan itu semua tanpa menerima balasan dan membeda-bedakan. Orang-orang yang ditolong Bunda Theresa pun lebih banyak dari golongan non-Katolik, seperti warga Muslim dan Hindu, yang merupakan golongan mayoritas di India.



membagikan bingkisan berupa kotak pensil dan alat tulis

Inilah yang saya dan teman-teman saya lakukan bagi mereka kaum lemah, dimana mereka memiliki latar belakang keluarga yang lemah ekonomi dan kesehatannya. Saya dan teman-teman berbaur mengajak mereka anak-anak SD tersebut untuk dapat merasakan kasih Tuhan di dalam hidup mereka. Dengan tidak mempedulikan kepercayaan, ras, yang mereka anut, kami mengajak mereka bermain games bersama, memberikan bingkisan, bersukacita bersama, dan tak lupa mendoakan mereka.

 anak-anak tersebut menampilkan sebuah drama

bermain games bersama-sama

Mungkin bagi saya dan teman-teman melakukan hal tersebut hal yang kecil dan mudah, tetapi bagi mereka apa yang kami lakukan itu sangat berarti baginya, karena disana lah mereka merasakan dicintai, dihargai, dan dianggap di lingkungan sekitarnya.

teman-teman membagikan bingkisan untuk anak-anak tersebut 


Kalau kita masih menghargai mereka yang miskin dan terlantar sebagai sesama kita, kita bisa menghargai pula apa artinya kemanusiaan dan martabat pribadi manusia. Lakukan dengan hati yang tulus dan biarlah Tuhan membalas kebaikanmu. Tuhan memberkati (Lim Jessica)




Minggu, 29 November 2015

KAMI INDONESIA

Berbeda dari postingan sebelumnya, kali ini saya memposting sebuah video yang mungkin dapat menginspirasi kita semua. Video ini ditujukan buat kita semua bangsa Indonesia, bahwa kita lahir di tanah Indonesia bukan karena pilihan tetapi karena takdir yang telah Tuhan berikan kepada kita , dimana di bangsa ini kita hidup dalam berbagai suku, budaya, agama, ras yang berbeda-beda yang sebagaimana mestinya kita dapat bersatu dalam perbedaan yang kita miliki, karena tanah Indonesia diizinkan untuk diinjak oleh perbedaan. Serta bagaimana kita menerima perbedaan itu dengan rasa yang kita miliki. Yukk guys kita lihat video yang satu ini.. Check it out!

Rabu, 18 November 2015

Keteladanan Mgr. Puja Sumarta



Beberapa hari yang lalu, kita masyarakat Indonesia umumnya umat katolik, kehilangan salah satu putera terbaik yakni Uskup Agung Semarang, Mgr.Johannes Pujasumarta Pr. Mgr.Puja, wafat pada hari Selasa 10 November 2015 di RS Elisabeth Semarang pada pukul 23.30.  Beberapa dari mereka mencoba menghibur diri dengan mengatakan : ”Ini pasti yang terbaik bagi Mgr.Puja setelah sakit begitu berat, Tuhan telah menganggap cukup tugas Mgr. Puja di dunia ini dan sekarang saatnya memperoleh mahkota kemuliaan bersama Tuhan” namun tak bisa dipungkiri, semua tiba-tiba merasa sangat kehilangan sosok Mgr.Johannes Pujasumarta Pr.
Banyak perjalanan yang ia tempuh sehingga Mgr.Puja menjadi Uskup Agung di Semarang. Pada tahun 1973, Mgr. Puja masih seorang frater, belum ditahbiskan menjadi imam. Jabatannya juga tidak tinggi-tinggi amat. Beliau “cuma” menjabat sebagai Frater Sub-Pamong MP (Medan Pertama) yang dapat menjadi tokoh, panutan, simbol pemersatu,di Seminari Mertoyudan angkatan 1973. Terbukti Romo Puja memang memiliki kepribadian yang baik. Caranya bersikap dan bertutur kata, diiringi dengan kemurahan hati dan tertawanya yang lepas, menunjukkan sekali bahwa ia adalah pribadi yang “punya kelas”.
Kemudian Bapak Uskup Agung Semarang Kardinal Julius Darmaatmadja SJ waktu itu menugaskan Romo Puja mengambil studi Teologi Spiritualitas di Universitas Angelicum Roma, karena menilai Romo Puja memiliki kualitas rohani yang tinggi. Hidup doa dan hidup rohaninya benar-benar bermutu. Singkat cerita sebelum ia belajar di Universitas Angelicum Roma, Romo Puja mengikuti retret dimana saat ia retret ia cuma minum air putih saja sedangkan romo-romo sekarang jarang yang mau berpuasa dan matiraga seperti Romo Puja maka ada yang mengatakan bahwa suatu ketika nanti dia akan jadi Uskup. Ramalan Suster Marietta ini terbukti benar. Romo Pujasumarta memang kemudian terpilih menjadi Uskup, bahkan Uskup Agung.



Mendapat tahbisan episkopal dari tangan Kardinal Julius Darmaatmadja SJ untuk menjadi Uskup Diosis Bandung. (Ist)

Saat di Roma, Romo Pujasumarta sungguh menjadi sahabat yang sangat baik bagi rekan-rekannya. Kebutuhan sandang dan pangan rekan-rekannya bahkan sangat diperhatikannya,  diwarisi dan dicarikan baju-baju yang tebal-tebal, kalau musim dingin tiba.  Selain itu tidak segan-segan Romo Puja menunjukkan koleksi korespondensinya dengan kakak dan adik-adiknya yakni dokumentasi yang lengkap memaknai apa-apa saja peristiwa hidup sehari-hari dari kacamata iman serta menunjukkan betapa hebatnya hidup doa dan hidup beriman sebuah keluarga yang sungguh-sungguh konsekwen mengikuti Yesus itu.
Selama kurang lebih 20 tahun terakhir ini, umat Katolik khususnya orang muda Katolik, sangat mengenal Mgr. Pujasumarta sebagai “Uskup Gaul”, uskup yang tidak alergi dengan media sosial. Sebelum zaman Facebook, Mgr. Puja sudah aktif melanglang buana di dunia maya. Walau rajin berpuasa dan bermati raga, Mgr. Puja juga tidak menjauhi dunia. Diajak makan ibu-ibu di resto, tidak dianggap haram oleh Mgr. Puja. Walau sering memberi kesan “ngèli” (sengaja ikut arus) tetapi beliau tidak pernah “kèli” (terbawa arus).
Dimana pun beliau ditugaskan, termasuk ketika ditunjuk menjadi Uskup Bandung “cuma” selama 2 tahun pada tahun 2008 dan kembali “pulang kandang” ke Semarang pada tahun 2010, semua diterima dan dijalani dengan taat serta gembira.
Dimanapun Mgr. Puja bertugas, ia selalu menampilkan diri sebagai bapak dan gembala yang baik bagi domba-dombanya. Mgr. Puja tidak hanya menggembalakan dengan “kepala”, tetapi lebih nampak menggembalakan dengan “hati”. Ia menjadi gembala yang begitu dicintai, karena selama hidupnya ia menjadi pemberi yang tekun, setia dan tak pernah lelah.
Cara beliau menghadapi masalah umat, termasuk masalah yang menjadi pergumulan para calon imam dan rekan-rekan imamnya, sangat jelas menampilkan bahwa seorang imam Pujasumarta pertama-tama adalah “orang rohani”, rekan seperjalanan dalam berjuang menghidupi iman. Apa pun yang diberikan, senantiasa dipandang sebagai pelayanan. Apa pun yang ditugaskan, selalu dipandang sebagai pamong, sebagai “pengasuh” umat.
Semoga apapun yang ia lakukan selama ini dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua karena menurut saya alm. Mgr. Puja sudah menjadi gembala yang sungguh baik, karena sebagai imamNya dan UskupNya, beliau tahu menunjukkan domba-dombanya jalan yang benar, dengan cara yang benar, dengan jalan yang baik, dan dengan teladan hidup yang tak tercela.

Kamis, 05 November 2015

Mengasihi Sesama Sebagai Bukti Mengasihi Tuhan

Ketika kita mengaku bahwa kita mengasihi Tuhan, hal itu perlu kita buktikan dengan cara bagaimana kita dapat menyenangkan hati-Nya, seperti yang kita lakukan terhadap orang-orang yang kita kasihi. Salah satu contoh mengasihi adalah memberi, entah itu untuk orangtua, teman, saudara, ataupun orang lain yang lemah.
Suatu ketika, saya dan beberapa teman saya diminta untuk melakukan proyek kebaikan.  Dimana proyek kebaikan itu menunjukan hal mengasihi orang lain yang kurang mampu. Setelah berunding beberapa waktu, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan proyek ini dengan cara memberikan makanan berupa nasi bungkus dan segelas air mineral kepada orang-orang yang kurang mampu.
Awalnya kami merasa santai dan hampir tidak memaknai hal ini karena kami hanya berkata, “halah cuma tugas kok, beli makan itu hal yang mudah”. Tetapi tepat dimana hari itu kami melakukan proyek kebaikan, kami justru harus berjuang dan berusaha, karena diantara kami tidak ada yang dapat mengendarai kendaraan, dan itu mempersulit kami untuk berpergian membeli makanan maupun mendatangi orang-orang yang kurang  mampu, dan pada akhirnya kami menggunakan angkot untuk melakukan proyek tersebut.
Kemudian setelah kami sampai di tempat yang kami tuju, kami mencari orang-orang yang kurang mampu, dan ini menjadi tantangan kami selanjutnya karena tidak mudah untuk menemukan orang-orang yang kurang mampu di sekitar lokasi tersebut. Sampai akhirnya kami berjalan menyusuri sepanjang jalan dan menemukan tukang  becak, pemulung sampah, dan tukang parkir, segeralah kami memberikan makanan dan minuman tersebut kepada mereka dan tak segan-segan untuk mengajak ngobrol mereka.


Setelah proyek tersebut berakhir, kami mulai merasakan bahwa hal kecil yang kami lakukan tersebut sangat bermanfaat bagi mereka. Terbukti pada saat mereka menerima makanan yang kami beri, mereka dengan cepat dan lahap memakannya, dari kejadian yang kami lihat, kami merasakan senang sekali, karena hal yang menurut kami sangat sederhana tetapi bagi mereka sangat berarti. Selain itu kami belajar untuk bersyukur atas apa yang dapat kami makan hari ini karena masih banyak orang di luar sana yang kurang beruntung dan kelaparan. Serta yang terpenting adalah belajar untuk memberi dengan hati yang tulus, tidak memandang sebelah mata, tidak mengharapkan imbalan, dan belajar mengasihi sesama tanpa memandang perbedaan agama yang mereka anut.  

Dalam menikmati hidup ini, tidak jarang kita mengabaikan sesama kita, karena yang menjadi fokus kita adalah “diri kita sendiri”. Saat kita benar-benar menghayati ajaran Kristus tentang kasih, kita selalu disadarkan bahwa kita tidak hidup sendiri di tengah dunia ini. Hidup ini terlalu indah untuk dinikmati sendiri. Kita ditantang untuk ‘mempraktekan dan mereflksikan’ ajaran Tuhan tentang kasih. Ajaran ini tidak sulit, hanya dibutuhkan kesediaan dari kita! Dan belajarlah dari Matius 22 : 29 “Itulah hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Lim Jessica)

Selasa, 27 Oktober 2015

Perbedaan bukan untuk menjauhkan satu sama lain

Suatu ketika di suatu tempat, saya dan teman saya asik mengobrol membicarakan topik yang sedang menggebu-gebu di kalangan remaja saat ini yakni galau. Awalnya teman saya menceritakan apa yang dialaminya akhir-akhir ini tentang hubungannya dan masa lalunya. Eitss.. tahan dulu rasa penasaran kalian..

Kemudian setelah beberapa lama membicarakan hal tersebut, topik yang kami bicarakan semakin menggeser membahas hal yang mungkin diantara kita merasa sensitif jika ditanyakan, yakni agama.

Nah temen-temen, yang akan saya share disini bukanlah tentang hubungan teman saya dan masa lalunya, tetapi hal yang kedua, berkaitan dengan pengalaman beragama.

Guys.. pasti masing-masing kita menganut agama menurut iman dan kepercayaan. Kita hidup di dunia ini diberi kesempatan untuk bebas memilih agama apa yang ingin kita anut. Entah itu diturunkan dari orangtua kita atau kita sendiri memilih jalan hidupnya masing-masing.
Sebenarnya semua agama itu sama saja, tetapi yang membedakan adalah cara kita untuk menyampaikan dan mempertanggungjawabkan iman kita sendiri. Nama agama hanyalah sarana agar kita dekat dengan Tuhan. Karena menurut saya dengan agama yang saya anut yaitu katolik, yang saya percaya adalah Tuhan Yesus Kristus. Seperti halnya dengan agama Kristen bahwa yang mereka percayai adalah Tuhan Yesus Kristus, tetapi cara menyembahnya yang berbeda. Seperti yang kita tahu kalau agama katolik di setiap minggu nya merayakan misa ekaristi (dimana setiap ekaristi kita menerima tubuh Kristus) sedangkan di gereja Kristen melakukan ibadah (hanya 1 bulan sekali menerima tubuh Kristus). Ada titik dimana menjadi pertanyaan, yakni bagaimana jika seorang katolik tetapi melakukan penyembahan layaknya umat kristen, ataupun sebaliknya ? Saya kira tidak masalah, karena orang kristen dan katolik menyembah Tuhan yang sama yakni Tuhan Yesus Kristus. Status agama janganlah menjadikan kita terombang-ambing di dalam hidup kita tetapi belajarlah bagaimana kita mempertanggungjawabkan iman kita di dalam kehidupan kita sendiri, serta menjadikan kerajaan Allah sebagai tujuan hidup kita. Karena Tuhan dapat memakai setiap pribadi agar kita dapat mendekatkan diri kepada Tuhan. Jangan karena nama “agama”, kita membatasi hubungan diri kita sendiri dengan Tuhan  Dan yang terpenting adalah kita menjalankan iman kita sesuai dan seturut kehendak Allah, bukan karena status maupun paksaan oranglain.



Saya diingatkan kembali dengan ayat Matius 6 : 1
“Ingatah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga”
Jadilah kerajaan Allah sebagai tujuan utama kita. Dengan hati yang tulus, bukan untuk kesombongan belaka, dan agar dihormati oleh lingkungan sekitar kita. Tuhan memberkati (Lim Jessica)

Minggu, 25 Oktober 2015

Kebenaran di dalam Gereja Katolik

Gereja Katolik mempercayai bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik, karena Allah secara lengkap telah mewahyukan Diri-Nya dari Perjanjian Lama dan dipenuhi dalam diri Yesus, dan Yesus – yang sungguh Allah dan sungguh manusia, yang juga adalah Kepala Gereja – telah mendirikan Gereja dan memberikan kuasa kepada Gereja Katolik, yang adalah Tubuh Mistik Kristus. Kebanggaan dan tanggung jawab ini harus disertai dengan pembinaan umat Allah, sehingga mereka dapat dengan tekun dan setia menjalankan apa yang diajarkan oleh Kristus melalui Gereja. Dan Gereja akan semakin bersinar dengan orang-orang kudus yang hidup sepanjang sejarah Gereja. Orang akan semakin mengerti pengajaran Gereja Katolik, ketika seseorang melihat yang terberkati Bunda Teresa dari Kalkuta, St. Maximilian Kolbe yang mengurbankan dirinya untuk keselamatan orang lain, St. Damien yang melayani orang-orang kusta sampai akhirnya dia sendiri meninggal karena penyakit ini. Sebaliknya, Gereja akan berduka jika anggotanya ada yang tidak menjalankan apa yang diajarkan. Kita dapat melihat bahwa dalam kehidupan banyak umat Katolik justru dapat menjadi batu sandungan. Contoh-contoh ini merupakan keprihatinan dari Gereja, yaitu ketika ada jurang antara iman dan kehidupan nyata sehari-hari atau dengan kata lain, ada orang yang percaya, namun tidak tercermin dalam tindakan sehari-hari.
Kehidupan beragama yang baik bukanlah berdasarkan toleransi yang semu, yang mempunyai tendensi untuk mengatakan bahwa semua agama sama saja. Gereja Katolik tetap menghormati agama-agama yang lain, mengakui adanya unsur-unsur kebenaran di dalam agama-agama yang lain, namun tanpa perlu mengaburkan apa yang dipercayainya, yaitu sebagai Tubuh Mistik Kristus, di mana Kristus sendiri adalah Kepala-Nya. Oleh karena itu, Gereja Katolik tetap melakukan evangelisasi, baik dengan pengajaran maupun karya-karya kasih. Dengan kata lain, Gereja terus mewartakan Kristus dengan kata-kata dan juga dengan perbuatan kasih. Konsili Vatikan II dalam dokumen Nostra Aetate menuliskan demikian:
Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci di dalam agama-agama ini. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.
Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.

Jadi, kehidupan beragama yang baik, hanya dapat terlaksana jika terjadi suasana dan lingkungan yang memberikan kebebasan beragama dan setiap umat dapat melaksanakan agama masing-masing dengan bijaksana. Pada saat yang bersamaan, maka umat Katolik juga harus tetap berakar pada doktrin yang kuat, serta bijaksana dalam proses evangelisasi, yakni dengan memberikan kesaksian akan Kristus dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dalam perjuangan untuk hidup kudus.

sumber : http://www.katolisitas.org/7253/definisi-agama-keprihatinan

Jumat, 23 Oktober 2015

Menjadi Katolik artinya menerima dengan iman, wahyu Tuhan dan undangan-Nya kepada persatuan dengan-Nya

Sebagai murid Kristus, kita tidak hanya mengikuti sebuah buku, tetapi Seorang Pribadi, yaitu Yesus Kristus. Itulah sebabnya kita disebut sebagai “Christ-ian” atau Kristiani/ Kristen. Pribadi yang kita ikuti dan kita jadikan pusat dalam hidup kita ini, adalah Pribadi yang mengasihi kita, yang menyatakan kasih-Nya itu dan mewahyukan Diri-Nya secara penuh kepada kita. Karena kasih-Nya yang sempurna inilah, Kristus ingin terus tinggal di tengah kita dan bersekutu/ bersatu dengan kita. Sebab kasih selalu menginginkan kebersamaan. Kristus menghendaki kebersamaan atau persekutuan antara kita dengan Dia, atas dasar kasih dan kebenaran, sebab Ia Allah yang adalah Sang Kasih (1 Yoh 4:8) dan Kebenaran (Yoh 14:6). Maka menjadi Katolik, pertama-tama adalah menanggapi dengan iman, pewahyuan Allah dan undangan-Nya kepada persatuan (komuni) dengan-Nya. Maka, menjadi Katolik adalah menjadi seorang Kristiani, titik. Sebab seorang Kristiani sudah seharusnya menerima segala yang diwahyukan Allah di dalam Kristus.


Iman yang dimaksud di sini, menurut Konsili Vatikan II, Katekismus, dan pengajaran Paus Yohanes Paulus II adalah iman yang terdiri dari dua unsur. Yang pertama adalah unsur pribadi, yaitu percaya kepada Allah, akan segala kasih dan kebijaksanaan-Nya, sehingga kita mau menyerahkan diri kita tanpa syarat kepada-Nya. Dengan kata lain, kita lebih percaya akan kebijaksanaan Allah daripada kebijaksanaan diri sendiri untuk menentukan kebahagiaan kita, dan kita lebih percaya akan kuasa rahmat-Nya daripada kekuatan sendiri untuk mencapainya. Yang kedua adalah unsur obyektif, yaitu kita percaya akan isi wahyu yang diberikan Tuhan, dan memegangnya sebagai sesuatu yang ilahi. Maka unsur pertama adalah percaya kepada Allah yang mewahyukan dan unsur kedua adalah percaya kepada apa yang diwahyukan-Nya. Dengan demikian, iman dapat digambarkan dengan perkataan ini: “Kalau Tuhan yang saya percayai sebagai Pribadi yang baik, penuh cinta kasih, dan bijaksana, telah mewahyukan sesuatu kepada saya, maka atas hormat dan kasih kepada-Nya, saya mau menerima apa yang diwahyukan-Nya itu.”