Beberapa hari yang lalu,
kita masyarakat Indonesia umumnya umat katolik, kehilangan salah satu putera
terbaik yakni Uskup Agung Semarang, Mgr.Johannes Pujasumarta Pr. Mgr.Puja, wafat pada hari
Selasa 10 November 2015 di RS Elisabeth Semarang pada pukul 23.30. Beberapa
dari mereka mencoba menghibur diri dengan mengatakan : ”Ini pasti yang terbaik
bagi Mgr.Puja setelah sakit begitu berat, Tuhan telah menganggap cukup tugas
Mgr. Puja di dunia ini dan sekarang saatnya memperoleh mahkota kemuliaan
bersama Tuhan” namun tak bisa dipungkiri, semua tiba-tiba merasa sangat
kehilangan sosok Mgr.Johannes Pujasumarta Pr.
Banyak perjalanan yang ia tempuh sehingga Mgr.Puja
menjadi Uskup Agung di Semarang. Pada tahun 1973, Mgr. Puja masih seorang
frater, belum ditahbiskan menjadi imam. Jabatannya juga tidak tinggi-tinggi
amat. Beliau “cuma” menjabat sebagai Frater Sub-Pamong MP (Medan Pertama) yang
dapat menjadi tokoh, panutan, simbol pemersatu,di Seminari Mertoyudan angkatan
1973. Terbukti Romo Puja memang memiliki kepribadian yang baik. Caranya
bersikap dan bertutur kata, diiringi dengan kemurahan hati dan tertawanya yang
lepas, menunjukkan sekali bahwa ia adalah pribadi yang “punya kelas”.
Kemudian Bapak Uskup Agung Semarang Kardinal Julius
Darmaatmadja SJ waktu itu menugaskan Romo Puja mengambil studi Teologi
Spiritualitas di Universitas Angelicum Roma, karena menilai Romo Puja memiliki
kualitas rohani yang tinggi. Hidup doa dan hidup rohaninya benar-benar bermutu.
Singkat cerita sebelum ia belajar di Universitas Angelicum Roma, Romo Puja
mengikuti retret dimana saat ia retret ia cuma minum air putih saja sedangkan romo-romo
sekarang jarang yang mau berpuasa dan matiraga seperti Romo Puja maka ada yang
mengatakan bahwa suatu ketika nanti dia akan jadi Uskup. Ramalan Suster
Marietta ini terbukti benar. Romo Pujasumarta memang kemudian terpilih menjadi
Uskup, bahkan Uskup Agung.
Mendapat tahbisan episkopal dari tangan Kardinal Julius Darmaatmadja SJ
untuk menjadi Uskup Diosis Bandung. (Ist)
Saat di Roma, Romo Pujasumarta sungguh menjadi sahabat
yang sangat baik bagi rekan-rekannya. Kebutuhan sandang dan pangan
rekan-rekannya bahkan sangat diperhatikannya, diwarisi dan dicarikan baju-baju yang
tebal-tebal, kalau musim dingin tiba. Selain itu tidak segan-segan Romo Puja
menunjukkan koleksi korespondensinya dengan kakak dan adik-adiknya yakni
dokumentasi yang lengkap memaknai apa-apa saja peristiwa hidup sehari-hari dari
kacamata iman serta menunjukkan betapa hebatnya hidup doa dan hidup beriman
sebuah keluarga yang sungguh-sungguh konsekwen mengikuti Yesus itu.
Selama kurang lebih 20 tahun terakhir ini, umat
Katolik khususnya orang muda Katolik, sangat mengenal Mgr. Pujasumarta sebagai
“Uskup Gaul”, uskup yang tidak alergi dengan media sosial. Sebelum zaman
Facebook, Mgr. Puja sudah aktif melanglang buana di dunia maya. Walau rajin
berpuasa dan bermati raga, Mgr. Puja juga tidak menjauhi dunia. Diajak makan ibu-ibu
di resto, tidak dianggap haram oleh Mgr. Puja. Walau sering memberi kesan “ngèli”
(sengaja ikut arus) tetapi beliau tidak pernah “kèli” (terbawa arus).
Dimana pun beliau ditugaskan, termasuk ketika ditunjuk
menjadi Uskup Bandung “cuma” selama 2 tahun pada tahun 2008 dan kembali “pulang
kandang” ke Semarang pada tahun 2010, semua diterima dan dijalani dengan taat
serta gembira.
Dimanapun Mgr. Puja bertugas, ia selalu menampilkan
diri sebagai bapak dan gembala yang baik bagi domba-dombanya. Mgr. Puja tidak
hanya menggembalakan dengan “kepala”, tetapi lebih nampak menggembalakan dengan
“hati”. Ia menjadi gembala yang begitu dicintai, karena selama hidupnya ia
menjadi pemberi yang tekun, setia dan tak pernah lelah.
Cara beliau menghadapi masalah umat, termasuk masalah
yang menjadi pergumulan para calon imam dan rekan-rekan imamnya, sangat jelas
menampilkan bahwa seorang imam Pujasumarta pertama-tama adalah “orang rohani”,
rekan seperjalanan dalam berjuang menghidupi iman. Apa pun yang diberikan,
senantiasa dipandang sebagai pelayanan. Apa pun yang ditugaskan, selalu
dipandang sebagai pamong, sebagai “pengasuh” umat.
Semoga apapun yang ia lakukan selama ini dapat menjadi
pelajaran yang berharga bagi kita semua karena menurut saya alm. Mgr. Puja sudah
menjadi gembala yang sungguh baik, karena sebagai imamNya dan UskupNya, beliau
tahu menunjukkan domba-dombanya jalan yang benar, dengan cara yang benar,
dengan jalan yang baik, dan dengan teladan hidup yang tak tercela.


Semoga apa yang Beliau lakukan di bumi ini dapat memberikan keteladanan positif bagi kita smua. GBU
BalasHapusMgr. Puja merupakan tokoh agama yang patut dicontoh, walaupun beliau merupakan tokoh agama tetapi beliau juga tidak menjauhi hal-hal duniawi, seperti menggunakan jejaring sosial untuk berkomunikasi dengan umat-umatnya.
BalasHapussemoga artikel ini dapat menginspirasi kita semua untuk hidup dalam kesederhanaan beliau
BalasHapusgood article..!
BalasHapusOur deep condolence for Catholic friends. Hope every moral value in his life can be our spirit to be a friendly and supported youths. Terus lanjutkan semangat beliau, Gbu
BalasHapusSemoga romo Puja bahagia di sisi Bapa.. semoga karya dan pelayanannya dapat selalu ada dan mengalir di hati kita.. amin.. god bless
BalasHapusdeep condolence untuk Beliau dan juga semoga diberkati atas jasa-jasa dan ketekunannya untuk menjadi panutan yang baik untuk kita semua
BalasHapusSemangat dari Mgr. Pujasumarta pantas untuk kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.. Amin.
BalasHapusGood article limjess,teruslah berkarya dan tuangkan inspirasi di blogmu. GBU
BalasHapusArtikel yg menginspirasi. Thanks
BalasHapusSmoga jasa jasa dan keteladanan beliau bisa kita laksanakan di dalam kehidupan kita. GOOD ARIKEL
BalasHapusNice.. semoga keteladanan beliau dpt kita terapkan dlm kehidupan sehari2
BalasHapusartikel yang menginspirasi...
BalasHapusSemoga teladan" beliau bisa menginspirasi yang lain Dan bermanfaat
BalasHapusBeliau contoh yg patut diteladani...walaupun saya beda agama , saya sangat salut
BalasHapussemoga apa yg telag dilakukan beliau dapat menjadi teladan yg baik untuk kita
BalasHapuscontoh yang patut ditiru
BalasHapus