Sebagai murid Kristus, kita tidak hanya mengikuti sebuah
buku, tetapi Seorang Pribadi, yaitu Yesus Kristus. Itulah sebabnya kita disebut
sebagai “Christ-ian” atau Kristiani/ Kristen. Pribadi yang kita ikuti dan
kita jadikan pusat dalam hidup kita ini, adalah Pribadi yang mengasihi kita,
yang menyatakan kasih-Nya itu dan mewahyukan Diri-Nya secara penuh kepada kita.
Karena kasih-Nya yang sempurna inilah, Kristus ingin terus tinggal di tengah
kita dan bersekutu/ bersatu dengan kita. Sebab kasih selalu menginginkan
kebersamaan. Kristus menghendaki kebersamaan atau persekutuan antara kita
dengan Dia, atas dasar kasih dan kebenaran, sebab Ia Allah yang adalah Sang Kasih
(1 Yoh 4:8) dan Kebenaran (Yoh 14:6). Maka menjadi Katolik, pertama-tama adalah
menanggapi dengan iman, pewahyuan Allah dan undangan-Nya kepada persatuan
(komuni) dengan-Nya. Maka, menjadi Katolik adalah menjadi seorang Kristiani,
titik. Sebab seorang Kristiani sudah seharusnya menerima segala yang diwahyukan
Allah di dalam Kristus.
Iman yang dimaksud di sini, menurut
Konsili Vatikan II, Katekismus, dan pengajaran Paus Yohanes Paulus II adalah
iman yang terdiri dari dua unsur. Yang pertama adalah unsur pribadi, yaitu
percaya kepada Allah, akan segala kasih dan kebijaksanaan-Nya, sehingga kita
mau menyerahkan diri kita tanpa syarat kepada-Nya. Dengan kata lain, kita lebih
percaya akan kebijaksanaan Allah daripada kebijaksanaan diri sendiri untuk
menentukan kebahagiaan kita, dan kita lebih percaya akan kuasa rahmat-Nya
daripada kekuatan sendiri untuk mencapainya. Yang kedua adalah unsur obyektif,
yaitu kita percaya akan isi wahyu yang diberikan Tuhan, dan memegangnya sebagai
sesuatu yang ilahi. Maka unsur pertama adalah percaya kepada Allah yang mewahyukan
dan unsur kedua adalah percaya kepada apa yang diwahyukan-Nya. Dengan demikian,
iman dapat digambarkan dengan perkataan ini: “Kalau Tuhan yang saya percayai
sebagai Pribadi yang baik, penuh cinta kasih, dan bijaksana, telah mewahyukan
sesuatu kepada saya, maka atas hormat dan kasih kepada-Nya, saya mau menerima
apa yang diwahyukan-Nya itu.”

Sebagai umat katolik kita juga harus imbang dengan kehidupan kita sehari hari sikap dan tingkah laku kita
BalasHapusSebagai umat katolik kita juga harus imbang dengan kehidupan kita sehari hari sikap dan tingkah laku kita
BalasHapusSaya setuju dengan ini
BalasHapusSaya setuju dengan blog ini , blog ini sangat menginspirasi
BalasHapusBermakna sekali blog ini , wah wah
BalasHapusLim jes dapet inspirasi dimana ?
BalasHapusSaya setuju karena sebagai seorang Kristiani sudah seharusnya menerima segala yang diwahyukan Allah di dalam Kristus karena kasih-Nya yang sempurna. Tuhan memberkati
BalasHapussemoga kita bisa menjadi seorang katolik yang sejati ya jes hehe GBU
BalasHapusnice article :)
BalasHapusnice writing, keep going.
BalasHapuspost anda sangat bagus dan menginspirasi. terus berkayarya. gbu;)
BalasHapusLanjutkan menulis artikel.. semoga orang2 dpt terinspirasi..
BalasHapusLanjutkan menulis artikel.. semoga orang2 dpt terinspirasi..
BalasHapusSangat memberkati :)
BalasHapusSangat memberkati :)
BalasHapusBagus, semoga artikel ini menginspirasi yang lain
BalasHapusBagus, semoga artikel ini menginspirasi yang lain
BalasHapusGood ...bagus untuk menambah keimanan orang yg beragama
BalasHapus